Saat anak mulai masuk sekolah dasar, periode usia ini oleh Hurlock (1990) disebut sebagai dimulainya masa akhir kanak-kanak. Selain mulai munculnya sikap sulit menuruti perintah (membangkang) dan tidak rapih, masa ini adalah masa dimana nilai teman-teman sebaya lebih mempengaruhi anak dibanding nilai orang tua atau keluarga lainnya. Dari hal inilah ahli psikologi menyebut masa akhir kanak-kanak sebagai usia berkelompok.
Pada usia ini anak-anak lebih suka membentuk ataupun masuk dalam sebuah kelompok atau geng. Tentu saja geng anak-anak sangat berbeda dengan geng remaja. Berbeda dengan geng remaja yang biasanya terdiri dari remaja yang tidak berhasil memperoleh dukungan dari lingkungan kemudian bersatu untuk dalam keinginan untuk membalas dendam, geng anak justru umumnya terdiri dari anak-anak yang populer dengan teman sebayanya. Oleh karena akhir masa kanak-kanak disebut juga sebagai usia bermain, maka tujuan utama dari geng anak-anak adalah kelompok bermain untuk memperoleh kesenangan.
Pada dasarnya geng anak merupakan media pembelajaran sosial dalam masa perkembangan seorang anak.
Geng anak sebagai bentuk keangotaan kelompok memberi kesempatan pada anak untuk:
Geng anak sebagai bentuk keangotaan kelompok memberi kesempatan pada anak untuk:
- Belajar bekerja sama
- Belajar berperilaku sosial yang baik
- Belajar bersaing dengan orang lain
- Belajar menerima dan melaksanakan tanggung jawab
- Belajar bersikap positif
- Belajar berbagi
- Belajar bermain dan berolahraga
- Belajar menyesuaikan diri dengan standart kelompok
- Belajar kepada kelompok
- Belajar bebas dari orang dewasa
Namun demikian, selain manfaat positif di atas, geng anak juga dapat menimbulkan akibat yang kurang baik. Menjadi anggota geng seringkali menimbulkan pertentangan dengan orang tua dan penolakan terhadap standar orang tua. Apabila orang tua tidak cukup perhatian terhadap gejala ini, akibat terburuk adalah merenggangnya ikatan emosional antara kedua belah pihak.
Ciri lain dari geng anak selain telah disebutkan di atas adalah geng anak jarang berangotakan campuran kedua jenis seks. Tak ayal sering kita jumpai di sekolah dasar ada beberapa geng anak laki-laki dan geng anak perempuan.
Akibat dari keanggotaan seperti ini -dan ini adalah permasalah yang paling sering muncul dalam geng anak- adalah permusuhan antara anak laki-laki dan anak perempuan yang tajam. Meski tidak menutup kenyataan bahwa ada beberapa anak yang lebih menyukai lawan jenis sebagai teman atau menganggap permainan dari lawan jenis ada kalanya lebih menyenangkan, namun bersahabat dengan lawan jenis tetaplah menimbulkan kekhawatiran kalau-kalau sikap yang tidak menyenangkan akan timbul dari anggota-anggota gengnya. Pada umumnya geng perempuan lebih bersifat emosional daripada geng laki-laki didasari oleh penilaian terhadap kebebasan yang lebih banyak dimiliki oleh anak laki-laki dibanding anak perempuan. Permusuhan ini dapat membawa sikap antipati terhadap anggota geng lawan jenis, dan akibat yang paling merusak adalah cara anak memperlakukan anak-anak yang bukan anggota gengnya. Mereka seringkali bersikap kejam kepada anak-anak yang bukan anggota gengnya.
Akibat dari keanggotaan seperti ini -dan ini adalah permasalah yang paling sering muncul dalam geng anak- adalah permusuhan antara anak laki-laki dan anak perempuan yang tajam. Meski tidak menutup kenyataan bahwa ada beberapa anak yang lebih menyukai lawan jenis sebagai teman atau menganggap permainan dari lawan jenis ada kalanya lebih menyenangkan, namun bersahabat dengan lawan jenis tetaplah menimbulkan kekhawatiran kalau-kalau sikap yang tidak menyenangkan akan timbul dari anggota-anggota gengnya. Pada umumnya geng perempuan lebih bersifat emosional daripada geng laki-laki didasari oleh penilaian terhadap kebebasan yang lebih banyak dimiliki oleh anak laki-laki dibanding anak perempuan. Permusuhan ini dapat membawa sikap antipati terhadap anggota geng lawan jenis, dan akibat yang paling merusak adalah cara anak memperlakukan anak-anak yang bukan anggota gengnya. Mereka seringkali bersikap kejam kepada anak-anak yang bukan anggota gengnya.
Geng anak ini semakin dinamis tidak hanya oleh perlakuan yang kurang baik tehadap anak di luar anggota geng, namun juga banyak terjadi perkelahian antar anggota geng itu sendiri. Seringkali anak tidak saling berbicara dengan teman bermain atau teman baik. Merupakan ciri yang sangat menonjol pada masa akhir kanak-kanak dimana banyak pertengkaran kemudian berakhir dan persahabatan terjalin kembali tetapi ada pula yang tidak terselesaikan. Oleh karena itu terlihat kecenderungan pola persahabatan anak sekolah dasar adalah tidak tetap. Sering terjadi peralihan dari teman karib menjadi musuh, dari kenalan biasa menjadi sahabat. Dan hal ini sering terjadi secara cepat serta tanpa alasan.
Meskipun trend geng anak ini akan surut saat anak-anak menjelang akhir sekolah dasar/puber, namun saat menjalani tugas perkembangan di masa ini sering menimbulkan emosi yang hebat pada diri anak. Dibandingkan anak dalam periode awal masa kanak-kanak dimana anak yang lebih muda tidak sepenuhnya mengerti apa arti setiap komentar yang bersifat merendahkan, di akhir masa kanak-kanak ini anak lebih cepat marah kalau dihina. Meningginya emosi ini menjadi periode ketidakseimbangan bagi seorang anak, yaitu saat dimana anak menjadi sulit dihadapi.
Ketika orang dewasa menjumpai anak sedang mengalami "suasana hati yang buruk" ini maka hendaknya sesegera mungkin membantu anak-anak untuk menyelesaiakan "keadaan buruk"-nya tersebut. Semakin lama anak terjebak dalam situasi buruk ini, maka semakin dia menjadi gelisah, tegang, dan mudah tersinggung oleh masalah yang sangat kecil sekalipun. Hasil akhirnya pun anak akan semakin sulit untuk dihadapi.
Ada beberapa stimulus yang dapat diberikan orang dewasa pada anak untuk meredakan emosinya. Menyibukkan diri dengan bermain, tertawa terbahak-bahak atau bahkan menangis merupakan katarsis emosi (penyaluran emosi) secara fisik bagi anak. Menangis dapat menjadi pelampiasan tenaga emosi, tetapi biasanya mempunyai akibat sampingan berupa perasaan sedih yang melemahkan tenaga seseorang. Selain itu menangis seringkali mendapat penilaian sosial dianggap seperti anak kecil.
Lain halnya dengan tertawa dan bermain yang tidak membawa akibat sampingan dan penolakan sosial. Termasuk di dalam kegiatan bermain dan tertawa ini adalah berolahraga dan aktifitas kesenian seperti bermain musik, menggambar, menari ataupun bermain peran/drama.
Mengajak anak membicarakan pelbagai situasi yang tidak menyenangkan yang dialami anak dalam kelompok sosialnya seperti perasaan takut, kecewa, marah, sedih ataupun cemburu, juga akan banyak membantu.
Dengan mengajak anak berbicara (katarsis mental), mereka akan memperoleh pandangan baru tentang pelbagai masalah emosional sehingga setiap situasi yang membangkitkan emosi dapat dicegah atau dikurangi.
Menggabungan katarsis mental dan katarsis fisik juga dapat menjadi pilihan orang dewasa untuk memberi kesempatan pada anak belajar mengungkapkan emosi dalam bentuk yang beragam dan dalam bentuk yang dapat diterima secara sosial.
Akhir catatan, bagi seorang anak geng anak adalah tugas perkembangan yang akan dilaluinya. Bagi orang dewasa, mengenalnya berarti menyiapkan diri menjadi teman agar keluh kesah anak tetap menjadi kisah yang indah dan bermakna dalam kehidupan mereka.
Pustaka: Hurlock, E.B, 1990, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Erlangga
Dengan mengajak anak berbicara (katarsis mental), mereka akan memperoleh pandangan baru tentang pelbagai masalah emosional sehingga setiap situasi yang membangkitkan emosi dapat dicegah atau dikurangi.
Menggabungan katarsis mental dan katarsis fisik juga dapat menjadi pilihan orang dewasa untuk memberi kesempatan pada anak belajar mengungkapkan emosi dalam bentuk yang beragam dan dalam bentuk yang dapat diterima secara sosial.
Akhir catatan, bagi seorang anak geng anak adalah tugas perkembangan yang akan dilaluinya. Bagi orang dewasa, mengenalnya berarti menyiapkan diri menjadi teman agar keluh kesah anak tetap menjadi kisah yang indah dan bermakna dalam kehidupan mereka.
Pustaka: Hurlock, E.B, 1990, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Erlangga
