Rabu, 12 Oktober 2016

Pelecehan Sexual Itu Nyata di Depan Mata

Baru sore kemarin saya mendapat postingan artikel tentang Progesterex. Postingan di group itu akhirnya berlanjut dengan perbincangan yang diawali dengan kisah seorang teman saya yang berprofesi sebagai pengacara dimana dia menceritakan bahwa kasus terbanyak yang dia tangani adalah perihal pencabulan.
Obrolan ibu-ibu ini tentu saja bernuansa keprihatinan dan kengerian. Perbincangan kami akhiri dengan doa bersama semoga keluarga dan anak-anak kami terjauhkan dari hal-hal tersebut.
Selang beberapa jam kemudian, di malam hari, sambil menyiapkan perlengkapan sekolahnya untuk esok hari Ini bercerita.
Ini meceritakan bahwa tadi di sekolahnya terjadi hal yg menyerempet pencabulan.
Singkat cerita ada teman perempuannya tanpa sengaja roknya terbuka. Ada teman laki-lakinya melihat dan sontak berkata sambil menunjuk rok yang terbuka,"haaa...njaluk dikawin!" (Minta dikawin-red) Sambil berjalan ke arah teman wanitanya tersebut seolah hendak mencium.
Demi melihat hal itu, Ini dan kawan-kawan perempuan yg lain mengadakan perlawanan. Mencegah.
Tanpa dinyana, teman laki-lakinya yang lain malah bilang, "kowe njaluk sisan po?" (Kamu minta sekalian kah?-red)
Seketika itu juga Ini marah tidak terkira.
Sementara teman yang terbuka roknya tertunduk ketakutan.
Astaghfirullah....
Saya syok , kaget terpendam dalam hati. Baru beberapa jam yang lalu saya memberbincangkan tentang fenomena pelecehan sexual dan sekejap kemudian peristiwa itu terpapar di hadapan saya. Di lingkungan anak saya.
Banyak pertanyaan berkecamuk dalam pikiran saya. Bagaimana bisa anak sekecil itu bermulut cabul? Dari mana mereka memperoleh ilmu berniat melakukan pelecehan seperti itu?
Sambil menghela nafas saya berdo'a, Ya Mukmin.......Ya Wakiilu.....Engkaulah sebaik-baik pelindung bagi kami dan anak-anak kami
Selanjutnya, tidak boleh menyerah. Jika lingkungan sudah begitu rusak, maka perlu tenaga ekstra untuk mencipta lingkungan yang aman dan ramah bagi keluarga kita. Bersama kita bisa.

Kamis, 06 Oktober 2016

MIGRASI KOMPETISI ke KOLABORASI

Sedang jalan-jalan di dunia maya mencari bekal untuk KRAP PANTURA di Brebes besok malah nemu ungkapan apik Joey Alexander,
"I just want to play and winning isn’t my goal. I came to the Grammys to play. Didn’t expect to win. It’s all about the music. The opportunity to play for both shows was a huge blessing”
Alhasil jatuh cinta dan dibungkus, bawa pulang, diolah jadi sajian yang semoga bermanfaat :)

MIGRASI KOMPETISI ke KOLABORASI
Di zaman sekarang, hampir semua kegiatan anak bersifat kompetisi bahkan kegiatan yang sifatnya untuk bersenang-senang sekalipun ikut dilombakan.
Banyak orang tua pun akhirnya  berlomba-lomba menyertakan anaknya di berbagai macam perlombaan dengan kekhawatiran bila tidak ikut lomba yang menghasilkan piala, bagaimana mungkin anakku bisa dikatakan berprestasi?
Tidak ada yang salah dengan perlombaan. Hanya saja bingkai pemikiran orang tua yang selayaknya diperbaharui.  Kita seringkali menganggap kompetisi adalah satu-satunya sumber kesenangan buat anak. Sesungguhnya bersenang-senang tidaklah selalu harus mengubah lapangan bermain menjadi arena kompetisi namun orang tua dituntut mampu merubah suasana kompetisi menjadi kolaborasi yang memberi kesempatan pada anak untuk mendapatkan kesenangan yang lebih besar.
Alih-alih anak sekedar ikut lomba,  anak-anak diajak untuk terlibat dalam proyek perlombaan renang, taekwondo, sains, bahkan lomba 17-an. Dalam proyek,  siapapun bekerja sama, saling membantu, agar bisa menampilkan performa terbaik. Anak-anak saling memotivasi kala lelah melanda saat latihan, saling bekerjasama&mengingatkan segala perlengkapan yang harusnya disiapkan dan dibawa di arena, bahkan saling merangkul saat ada yang terpuruk atau kecewa ketika ada yang gagal mencapai performa yang distandartkan. Anak-anak pun selayaknya berkesempatan untuk melihat bagaimana para orang tua saling bahu membahu mensuport segala kebutuhan dan perlengkapan yang  diperlukan anak-anak mereka. Dalam kolaborasi, yang disajikan adalah anak-anak, guru/pelatih, orang tua, atau siapapun elemen yang membantu sebuah proyek bergandengan tangan untuk meraih prestasi. Ukuran berprestasi bukan sekedar medali emas, waktu tercepat,bukan sekedar juara satu tapi karya yang dihasilkan anak dan manfaat dari karya tersebut bagi orang lain sekalipun karya itu hanya  sebuah sentuhan pada garis finis di urutan terakhir. Seringkali orang tua hanya melihat kekalahan pada posisi terakhir namun tidak banyak memahami bagaimana dinamika perjuangan hati & pikiran seorang anak untuk dapat menyelesaikan sebuah pertandingan. Kita orang tua seringkali kehilangan banyak informasi mengenai tindakan yang perlu dilakukan seorang anak untuk mengembangkan diri karena sibuk menginginkan posisi pertama.
Dengan kolaborasi seorang anak belajar untuk tidak berkata "inilah saya" tetapi berkata "inilah kami". Dengan kolaborasi anak belajar menjadi pemenang yang santun dan menjadi kalah dengan elegan dan terhormat. Dengan kolaborasi anak tidak hanya belajar rasa kemenangan dan kekalahan namun menghayati setiap moment sebuah proses.
Dengan kolaborasi saya pun belajar menggubah lagu sheila on seven menjadi:
Pertandingan,
Kau berikan aku bahagia
Kau berikan aku derita
Aku pulang........
Kusyukurkan kemenanganKu
Aku pulang........tanpa dendam
Kusalutkan kemenanganMu
:) :) :) :) :) :)
Muntal di bulan Agustus,12 2016
#Mei Ranta dari berbagai sumber tulisan

Catatan SOT(Sekolah Orang Tua)


Dalam parenting hari ini salah satu hal yang diingatkan bu Iik adalah janganlah menyimpan kesolehan untuk diri kita sendiri.
Saya jadi teringat sebuah peristiwa beberapa tahun yang lalu.
Kala itu Romadhon. Lazim di beberapa daerah ketika menjelang hari raya tukang sayur membagi-bagikan bingkisan kepada pelanggannya. Pagi itu seorang tukang sayur juga sedang membagikan bingkisan kepada beberapa ibu-ibu yang sedang berbelanja padanya. Bukan panci, handuk atau payung, hanya sekedar satu bungkus kolang kaling dan sebungkus sayuran entah apa saya lupa. Beberapa mengucapkan terimakasih namun ada seorang ibu berusaha mengembalikan pemberian penjual itu dengan alasan tidak perlu repot, untuk dijual, khawatir nanti si penjual jadi rugi dan sebagainya (secara sekilas memang penjual sayur itu bukanlah penjual sayur bermodal besar yang jangankan naik mobil untuk berkeliling, naik motor pun tidak. Dia hanya menggunakan sepeda "onthel" roda dua). Tapi penjual sayur itu tetap bertahan untuk berbagi.
Setelah penjual sayur itu pergi, sang ibu yang melawan pemberian itu melanjutkan keluhnya pada seorang ibu tua yang baru datang di kerumunan "pasar kecil" tersebut dengan mengatakan bahwa seharusnya penjual sayur itu tak perlu berbagi bingkisan, kasihan kan labanya tidak seberapa
🎼acara ngerumpi pun dimulai🎶
Namun jawaban si ibu tua itu cukup mencengangkan. "Alhamdulillah kalau si pedagang sayur keliling itu bisa berbagi. Kolang kaling bisa untuk kolak buka puasa nih. Semoga berkah. Semoga rezeqinya ke depan semakin lancar."

Dalam kehidupan, kita seringkali tidak sadar berusaha memiliki sebuah kebaikan untuk diri kita sendiri. Kita ingin diri kitalah yang paling baik, yang sholeh, yang memberi dan orang lain tidak bolah melakukan/memiliki hal yang sama. Kita seolah hendak berebut pahala dan melupakan bahwa Allah Maha kaya. Kita lupa bahwa tak akan pernah habis stok pahala-Nya meski itu dibagi berjuta kali lipat pada seluruh umat manusia di bumi.
Mengapa kita begitu egois hanya kita yang boleh berbagi sementara yang lain tidak? Mengapa kita begitu sombong nenganggap penerima itu hina sementara kita lupa bahwa setiap detik hidup kita adalah pemberian dan belas kasih-Nya?
Seandainya kita mengingat indahnya rasa ketika kita memberi, tentu kita akan dapat ikhlas menerima pemberian dan mengizinkan si pemberi -betapapun miskinnya dia- untuk dapat tersenyum bahagia yang sama dengan kita. Ikhlas menerima adalah belajar tentang doa yang tulus.
Eric Fromm dalam bukunya "The Art of Loving" menjelaskan dengan apik bahwa seseorang hanya akan mampu merasakan cinta/kasih sayang jika dia memberi cinta/kasih sayang. Pun sebaliknya, seseorang mampu memberi cinta pada sesama apabila dia mampu menerima cinta dari sesama.
Menerima dengan ikhlas artinya disaat yang sama kitapun sedang memberi kebahagiaan.
Memberi dengan ikhlas artinya disaat yang sama pun kita menerima begitu banyak rizqi dariNya.

#hikmah#23 Agustus 2016#Mei Ranta

Medali dari Putraku


50 meter gaya bebas dimulai. Semua peserta terjun ke air dan memulai kayuhan tangan serta kakinya. Lomba renang berjalan seperti biasanya,adu cepat. Namun 10 meter berikutnya ada satu peserta yang tercecer di belakang dengan gerakan renang yang belum sempurna, tekhnik bernafasnya memang belum seperti yang seharusnya. Tiba-tiba seorang penonton berteriak-teriak, "anak itu tidak kuat! Dia hendak tenggelam! Tolong dia!"
Akan tetapi penonton lain di sebelahnya berkata, " Tidak apa-apa, anak itu mampu menyelesaikan perlombaannya. Dia baik-baik saja. Dia bisa!"
Namun penonton yang khawatir tersebut masih saja saja berkutat dengan ketakutannya. Dia baru terdiam saat perenang itu berada di 10 meter terakhir menjelang garis finis ketika hampir seluruh penonton di kolam renang berdiri, bertepuk sambil meneriakkan, "ayo....ayo...terus...terus!" Memberi semangat pada perenang terakhir itu agar menyelesaikan perlombaan. Garis finish pun tersentuh dan arena lomba pun dipenuhi kemeriahan applaus penonton. Perenang terakhir itu pun naik dari kolam dengan wajah penuh rasa senang. Dan perenang terakhir yang berjuang untuk garis finishnya itu adalah putraku, Iki.
#proud of you boy#thank to God how much you love me#ini kisahku #Mei Ranta#Brebes, 21 Agustus 2016

Obrolan Mimpi

Sayup menuju tengah malam terdengar para pemuda dan bapak-bapak Anugerah bekerjasama dengan santri pondok sibuk menyiapkan perlengkapan "plorotan bambu" untuk meramaikan acara malam tirakatan kemerdekaan esok.
Mendengar hiruk pikuk mereka sekilas saya teringat percakapan dengan pak Dony di suatu waktu. Sebuah obrolan mimpi.
Pak Don: "Jika kita punya uang banyak enaknya untuk beli apa Bu?"
Saya: Diam menghayal
Pak Don: "Beli tanah???"
Saya: "Untuk apa tanahnya?"
Pak Don: "Lha untuk apa enaknya? Kebun? Bikin rumah lagi?"
Saya: "Kalau kebun bolehlah tapi kalau untuk mendirikan rumah lagi.........😒"
Saya dan Pak Don saling berpandangan, tersenyum, dan akhirnya...........menggeleng bersama.
Di benak kami berdua mengatakan hal yang sama, kami mungkin akan bisa membeli tanah tetapi kami tidak bisa membeli tetangga, lingkungan dan keluarga seperti keluarga kami saat ini, Anugerah. (Insyaallah-Huwallahua'lam)
Sama halnya dengan kemerdekaan RI yang dihasilkan oleh perjuangan, kehangatan keluarga Anugerah bukanlah paket "dorprice" saat masing-masing membeli rumah namun sebuah proses yang terus diperjuangkan oleh warganya. Perlu kebesaran hati untuk perbedaan, perlu kelapangan hati untuk saling memaafkan dan perlu kerendahan hati untuk saling memeluk dan menguatkan. Perjuangan yang tidak mudah namun saya yakin warga Anugerah akan mampu bahu membahu untuk terus melakukannya.
Selamat hari merdeka ibu-ibu semua.
😙😙😙😙😙😙😙😙😙😙

#seneng weruh guyub#bangga sama pemuda#kangen suasana nyuci piring bareng sama ibu-ibu

🔭 SOROTAN


Trending topik pekan ini dikalangan ortu Mutiara Hati(MuHa) adalah daftar SD MuHa.
Sekilas tampak menggelikan karena tahun ajaran baru saja dimulai dan beberapa orang tua sudah "heboh"  mendaftarkan putra/i nya untuk ajaran tahun depan di SD.

Di kelas parenting Selasa,
memilih sekolah bagi buah hati seringkali menjadi topik yang asyik untuk didiskusikan. Setiap peserta parenting berbagi pengalaman dan bertukar isu-isu menarik yang mendinamiskan perbincangan "Battle of school" yang menghadirkan pengetahuan tentang positif & negatif antara sekolah negeri VS sekolah swasta (ataupun sekolah versus sekolah dengan identitas merknya masing-masing😷).
Di kelas parenting, memilih sekolah bukan lagi perkara dangkal selayaknya "dorprice" ataupun sekedar ikut trend namun sebuah proses yang memerlukan bekal pemikiran
bagi putra putrinya tercinta. Bagi yang memilih sekolah A ataupun sekolah B, C dsb, mereka telah mempunyai gambaran keuntungan apa yang akan didapatkannya dari sekolah tersebut serta apa yang harus mereka siapkan(antisipasi) untuk mendampingi kekurangan sekolah itu. Sehingga putra/i nya tetap optimal dalam berproses pendidikan.
Mencermati fenomena "trending topic" di atas, sesungguhnya adalah hal yang mahfum karena sebagian sekolah yang mereka tuju tidak menerapkan quota, namun sebagian yang lain menerima siswa dengan quota tertentu. Orang tua yang telah mempunyai bekal pengetahuan dalam memilih sekolah tentu lebih yakin dan lebih siap untuk sedari awal membuat keputusan dan bergerak lebih cepat mempersiapkan segalanya.
Berburu topik yang sedang ngetrend, boleh. Namun berburu sekolah yang sedang ngetrend, bukanlah jamannya untuk keluarga besar Mutiara Hati😉.
Dasari dengan ilmu, dasari dengan iman.
Lengkapi diri dengan pengetahuan, mintalah keputusan pada Tuhan.

Muntal di bulan Agustus,12 2016
Mei Ranta