Jumat, 02 Agustus 2019

Jurnal Psikologiku: Skiping Afeksi

Hari ini Iki memutuskan tidak sekolah. Bukan karena dia tidak mengerjakan semua tugas pagi sehingga ia harus absen sekolah, tetapi karena kegagalannya menjaga hati. Mulai dari mengaji hingga tugas membuang sampah sudah dilaksanakan Iki pagi ini tetapi semua dilakukan dengan energi kemarahan. Hari sebelumnya Iki pulang pukul 16.00 karena ada kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan dilanjutkan latihan taekwondo di malam harinya. Tak ayal lelah dan kantuk menderanya di keesokan harinya sehingga berimbas pada emosinya.
Sebenarnya cukup alasan memberi toleransi pada Iki untuk tidak melakukan tugas pagi atas nama lelah fisik. Namun Iki perlu belajar dan berlatih endurance hati, belajar bagaimana dia tetap tenang dan sabar saat  kekuatan tubuh di titik nadir.
Aturan di rumah, boleh absen sekolah tetapi tidak boleh absen belajar. Jadi seperti biasanya jika sedang tidak sekolah, maka tugas-tugas belajar sudah disiapkan untuk Iki. Tugas membaca buku diselesaikan dengan baik oleh Iki. Namun tugas menulis membuatku tertegun,

Membaca tulisan Iki melintaskan ingatan kisah bangsa Arab yang dituturkan oleh Martin Lings, "...keindahan bahasa merupakan dambaan setiap orang tua terhadap anak-anak mereka. Nilai seseorang umumnya dilihat dari kefasihan dalam bertutur kata, dan puncak kefasihan itu adalah puisi."
Iki belumlah mencapai puncak keindahan bahasa tersebut. Namun di dalam goresan cakar ayam anak kelas tiga SD, sebuah bahasa yang apik telah ditorehkan Iki untuk mentransformasikan isi hati dan pikirannya.

Alhamdulillah! Untuk raihan pelajaran hidup Iki hari ini. 

Marah adalah penyakit hati,
Berlatihlah mengatur marah untuk menjaga hati.



Minggu, 07 April 2019

Jurnal psikologiku: Surga adalah Nasi Goreng

Surau itu bisa dibilang tidak pernah sepi dari jamaah sholat fardhu. Meski tidak penuh, tetapi para sesepuh sekitar surau pasti hadir membentuk satu hingga dua shaf sholat. Dan karena jamaahnya kebanyakan sesepuh, maka suasana sholat dalam surau kami pun terasa begitu tenang. Tidak terdengar riuh rendah suara anak-anak kecil mengganggu kekhusyukan sholat. Namun justru disitulah letak masalahnya.
Muhammad Al Fatih, seorang tokoh penakluk konstantinopel pernah berkata, 
"Jika kalian tidak lagi mendengar riang tawadan gelakbahagia anak-anak di masjid-masjid, maka waspadalah! Saat itu kalian dalam bahaya."
Dan benarlah adanya. Surau itu kini telah kehilangan generasi penerus.
***


Menilik kembali sejarah Rasulullah S.A.W,  surau ataupun masjid dalam istilah lebih luas, sesungguhnya adalah pusat peradaban masyarakat. Berpijak dari hal tersebut, misi penyelamatan surau pun dilakukan. Dengan mengambil momentum Ramdahan yang penuh semangat spiritual, anak-anak coba diaktifkan kembali untuk memakmurkan surau. Beberapa kegiatan dirancang semenarik mungkin agar anak-anak datang ke surau. Diantara kegiatan tersebut adalah tadarusan sebelum saat berbuka. Setiap kali anak-anak datang tadarus yang dilanjutkan buka bersama dan sholat jamaah maghrib, anak-anak berhak memasukkan satu koin uang ke dalam celengan infak. 
Pengisian celelngan ini berfungsi sebagai presensi dan isi celengan kelak akan dihitung jumlah koinnya sebelum diinfakkan ke surau. Koin terbanyak –bukan nominal terbanyak- yang nantinya akan berhak mendapatkan hadiah.
Cara ini sempat mendapat pertentangan dari beberapa sesepuh surau karena dianggap mengajarkan ketidakikhlasan dalam beribadah.
***
Missing child, anak-anak yang hilang dari surau diidentifikasikan sebagai anak usia sekolah dasar di kisaran 7 – 12 tahun. Perkembangan kognitif anak usia ini oleh Piaget melalui penelitiannya dicikiran telah mampu berpikir operasional yaitu berpikir dengan prosedur yang jelas dan logis serta dapat berpikir secara sebaliknya atau membalikkan prosedur tersebut (irreversible). Sebagai contoh, anak dapat membagi sepotong donat menjadi empat dan mengembalikan potong-potongan donat tersebut membentuk satu kesatuan lingkaran kembali. Namun meski anak-anak pada usia ini telah dapat berpikir logis, mereka hanya mampu mengoperasikan mental berkenaan dengan benda-benda yang bersifat konkret. Anak usia ini masih memiliki masalah mengenai berpikir abstrak.
Surga bagi seorang anak adalah sebuah konsep yang abstrak karena anak-anak tidak secara konkret atau nyata melihat surga. Seringkali orang tua menjelaskan tentang surga melalui pemandangan-pemandangan indah ataupun kenikmatan-kenikmatan yang dicerap anak sebagai pengalaman atau sensasi yang luar biasa. Gambaran konkret ini diberikan untuk menjembatani keterbatasan berpikir anak.

Iki (8 tahun), sedang belajar berpuasa sunah Senin – Kamis. Awalnya Iki tidak tertarik untuk mencoba puasa ketika ibunya menjelaskan adanya pahala bagi orang berpuasa. Iki tidak mengerti apa itu pahala dan ketika disetarakan pahala sebagai hadiah, Iki sontak membayangkan mainan dan makanan yang diinginkannya. Selanjutnya yang terjadi, Iki senang berpuasa karena sudah ada nasi goreng lengkap dengan bakso, sosis, telur, babat, dan jerohan ayam untuknya berbuka sebagai hadiah berpuasa di hari itu. Surga bagi Iki adalah nasi goreng spesial.

Lantas bagaimana dengan ikhlas?
Nampaknya konsep ikhlas akan menjadi sedikit lebih rumit dari sekedar menggambarkan surga dengan simbol-simbol keindahan ataupun kenikmatan. Terlebih ikhlas senantiasa disandingkan dengan Tuhan. Artinya, jika konsep ikhlas sendiri telah begitu abstrak , bisa dibayangkan bagaimana mencari penggambaran yang konkret untuk sebuah konsep tuhan bagi anak-anak?J

Perkembangan kognitif ini selanjutnya memegang peranan penting dalam perkembangan penalaran moral seorang anak. Dalam studinya, Kohlberg mendapatkan bahwa pertimbangan moral anak –anak yang berusia 7 tahun atau kurang hingga usia 13 tahun bersifat superior pada tingkat satu yang disebutnya sebagai Moralitas Prakonvensional. Pada tingkat ini anak-anak bertindak berdasarkan pada orientasi hukuman yaitu tindakan dilakukan untuk mematuhi peraturan guna menghindari hukuman, ataukah orientasi gagasan yaitu memastikan akan mendapat ganjaran/balas budi.
Kematangan perkembangan kognitif bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi perkembangan moral. Nilai dan perilaku moral yang dianut orang tua serta standar moral yang dianut oleh teman sebaya, tokoh-tokoh dalam buku ataupun televisi juga ikut menentukan kematangan perkembangan anak dalam mempertimbangkan mana yang baik dan benar. Namun demikian dari penelitian yang diperoleh Kohlberg memperlihatkan perilaku moral alamiah anak-anak lebih mudah diaktifkan dengan orientasi ganjaran – hukuman.
Mengenai penggunaan hadiah dalam proses belajar, telah banyak bukti yang menyatakan bahwa penguatan (reward) dapat sangat efektif memodifikasi perilaku. Hadiah yang merupakan imbalan ekstrinsik sangat bermanfaat untuk membentuk perilaku seperti yang diinginkan. Namun studi lebih lanjut menunjukkan bahwa pemberian hadiah/reward tambahan (baik dalam hal penambahan waktu ataupun kuantitas) sebenarnya pun dapat mengganggu perilaku yang sudah dipertahankan dengan baik. Selain persetujuan sosial (social approval) yang selanjutnya mengambil alih alasan seseorang untuk tetap mempertahankan perilaku, kemungkinan lain adalah keinginan untuk mengontrol diri sendiri.
Ilustrasinya, seorang anak tidak lagi tertarik pada hadiah ketika dia sudah disiplin sholat jamaah di masjid karena selain malu atas penilaian sosial apabila terus menerus mendapat hadiah hanya agar sholat jamaah di masjid, juga ada rasa mampu ataupun kebanggaan jika dia pergi jamaah sholat ke masjid atas kehendak pribadi.

Dengan demikian, agar fungsi hadiah menjadi optimal, maka imbalan ekstrinsik (hadiah) dapat dihapuskan sedikit demi sedikit setelah perilaku yang diharapkan dari seorang anak diperoleh. Hal ini sekaligus mematahkan kekhawatiran beberapa orang bahwa memberikan hadiah dalam proses belajar tidak akan mampu menumbuhkan konsep dan sifat ikhlas dalam diri anak.
Berbicara kembali mengenai ikhlas, yang dibutuhkan hanyalah sedikit bersabar dalam upaya memahamkannya kepada anak. Secara umum, semakin tinggi tahap perkembangan kognitif seseorang, maka semakin teratur dan semakin abstrak cara berpikirnya. Guru ataupun orang tua sebaiknya memahami tahap-tahap perkembangan kognitif pada anak agar dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan tahap-tahap tersebut agar dapat dicapai hasil yang lebih bermakna.

Anak-anak laksana tunas bunga. Bagaimana dia akan berkembang mewarnai dunia tergantung kita merawatnya. 



Kamis, 28 Maret 2019

Jurnal psikologiku: Geng Anak

Saat anak mulai masuk sekolah dasar, periode usia ini oleh Hurlock (1990) disebut sebagai dimulainya masa akhir kanak-kanak. Selain mulai munculnya sikap sulit menuruti perintah (membangkang) dan tidak rapih, masa ini adalah masa dimana nilai teman-teman sebaya lebih mempengaruhi anak dibanding nilai orang tua atau keluarga lainnya. Dari hal inilah ahli psikologi menyebut masa akhir kanak-kanak sebagai usia berkelompok.
Pada usia ini anak-anak lebih suka membentuk ataupun masuk dalam sebuah kelompok atau geng. Tentu saja geng anak-anak sangat berbeda dengan geng remaja. Berbeda dengan geng remaja yang biasanya terdiri dari remaja yang tidak berhasil memperoleh dukungan dari lingkungan kemudian bersatu untuk dalam keinginan untuk membalas dendam, geng anak justru umumnya terdiri dari anak-anak yang populer dengan teman sebayanya. Oleh karena akhir masa kanak-kanak disebut juga sebagai usia bermain, maka tujuan utama dari geng anak-anak adalah kelompok bermain  untuk memperoleh kesenangan. 
Pada dasarnya geng anak merupakan media pembelajaran sosial dalam masa perkembangan seorang anak.
Geng anak sebagai bentuk keangotaan kelompok memberi kesempatan pada anak untuk:
  • Belajar bekerja sama
  • Belajar berperilaku sosial yang baik
  • Belajar bersaing dengan orang lain
  • Belajar menerima dan melaksanakan tanggung jawab
  • Belajar bersikap positif
  • Belajar berbagi 
  • Belajar bermain dan berolahraga
  • Belajar menyesuaikan diri dengan standart kelompok
  • Belajar kepada kelompok 
  • Belajar bebas dari orang dewasa

Namun demikian, selain manfaat positif di atas, geng anak juga dapat menimbulkan akibat yang kurang baik. Menjadi anggota geng seringkali menimbulkan pertentangan dengan orang tua dan penolakan terhadap standar orang tua. Apabila orang tua tidak cukup perhatian terhadap gejala ini, akibat terburuk adalah merenggangnya ikatan emosional antara kedua belah pihak.
Ciri lain dari geng anak selain telah disebutkan di atas adalah geng anak jarang berangotakan campuran kedua jenis seks. Tak ayal sering kita jumpai di sekolah dasar ada beberapa geng anak laki-laki dan geng anak perempuan.
Akibat dari keanggotaan seperti ini -dan ini adalah permasalah yang paling sering muncul dalam geng anak- adalah permusuhan antara anak laki-laki dan anak perempuan yang tajam. Meski tidak menutup kenyataan bahwa ada beberapa anak yang lebih menyukai lawan jenis sebagai teman atau menganggap permainan dari lawan jenis ada kalanya lebih menyenangkan, namun bersahabat dengan lawan jenis tetaplah menimbulkan kekhawatiran kalau-kalau sikap yang tidak menyenangkan akan timbul dari anggota-anggota gengnya. Pada umumnya geng perempuan lebih bersifat emosional daripada geng laki-laki didasari oleh penilaian terhadap kebebasan yang lebih banyak dimiliki oleh anak laki-laki dibanding anak perempuan. Permusuhan ini dapat membawa sikap antipati terhadap anggota geng lawan jenis, dan akibat yang paling merusak adalah cara anak memperlakukan anak-anak yang bukan anggota gengnya. Mereka seringkali bersikap kejam kepada anak-anak yang bukan anggota gengnya.
Geng anak ini semakin dinamis tidak hanya oleh perlakuan yang kurang baik tehadap anak di luar anggota geng, namun juga banyak terjadi perkelahian antar anggota geng itu sendiri. Seringkali anak tidak saling berbicara dengan teman bermain atau teman baik. Merupakan ciri yang sangat menonjol pada masa akhir kanak-kanak dimana banyak pertengkaran kemudian berakhir dan persahabatan terjalin kembali tetapi ada pula yang tidak terselesaikan. Oleh karena itu terlihat kecenderungan pola persahabatan anak sekolah dasar adalah tidak tetap. Sering terjadi peralihan dari teman karib menjadi musuh, dari kenalan biasa menjadi sahabat. Dan hal ini sering terjadi secara cepat serta tanpa alasan.
Meskipun trend geng anak ini akan surut saat anak-anak menjelang akhir sekolah dasar/puber, namun saat menjalani tugas perkembangan di masa ini sering menimbulkan emosi yang hebat pada diri anak. Dibandingkan anak dalam periode awal masa kanak-kanak dimana anak yang lebih muda tidak sepenuhnya mengerti apa arti setiap komentar yang bersifat merendahkan, di akhir masa kanak-kanak ini anak lebih cepat marah kalau dihina. Meningginya emosi ini menjadi periode ketidakseimbangan bagi seorang anak, yaitu saat dimana anak menjadi sulit dihadapi.
Ketika orang dewasa menjumpai anak sedang mengalami "suasana hati yang buruk" ini maka hendaknya sesegera mungkin membantu anak-anak untuk menyelesaiakan "keadaan buruk"-nya tersebut.  Semakin lama anak terjebak dalam situasi buruk ini, maka semakin dia menjadi gelisah, tegang, dan mudah tersinggung oleh masalah yang sangat kecil sekalipun. Hasil akhirnya pun anak akan semakin sulit untuk dihadapi.
Ada beberapa stimulus yang dapat diberikan orang dewasa pada anak untuk meredakan emosinya. Menyibukkan diri dengan  bermain, tertawa terbahak-bahak atau bahkan menangis merupakan katarsis emosi (penyaluran emosi) secara fisik bagi anak. Menangis dapat menjadi pelampiasan tenaga emosi, tetapi biasanya mempunyai akibat sampingan berupa perasaan sedih yang melemahkan tenaga seseorang. Selain itu menangis seringkali mendapat penilaian sosial dianggap seperti anak kecil. 
Lain halnya dengan tertawa dan bermain yang tidak membawa akibat sampingan dan penolakan sosial. Termasuk di dalam kegiatan bermain dan tertawa ini adalah berolahraga dan aktifitas kesenian seperti bermain musik, menggambar, menari ataupun bermain peran/drama.
Mengajak anak membicarakan pelbagai situasi yang tidak menyenangkan yang dialami anak dalam kelompok sosialnya seperti perasaan takut, kecewa, marah, sedih ataupun cemburu, juga akan banyak membantu.
Dengan mengajak anak berbicara (katarsis mental), mereka akan memperoleh pandangan baru tentang pelbagai masalah emosional sehingga setiap situasi yang membangkitkan emosi dapat dicegah atau dikurangi.

Menggabungan katarsis mental dan katarsis fisik juga dapat menjadi pilihan orang dewasa untuk memberi kesempatan pada anak belajar mengungkapkan emosi dalam bentuk yang beragam dan dalam bentuk yang dapat diterima secara sosial.


Akhir catatan, bagi seorang anak geng anak adalah tugas perkembangan yang akan dilaluinya. Bagi orang dewasa, mengenalnya berarti menyiapkan diri menjadi teman agar keluh kesah anak tetap menjadi kisah yang indah dan bermakna dalam kehidupan mereka.

Pustaka: Hurlock, E.B, 1990, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Erlangga


Kamis, 17 Januari 2019

Menjadi Coach

Kurang lebih satu tahun tidak mengikuti perlombaan ke luar kota, hari ini bersemangat banget packing segala hal untuk berangkat lomba renang besok ke Karanganyar.
Apa ya yang membuat semangat?
Bakal dapat gelar juara nanti di sana? Jelas nggak. Di atas kertas sesuai basis data time limit bisa diprediksi Iki tidak mungkin meraih gelar juara. Tapi ketentuan Allah tentu melebihi akal manusia kan? Siapa tahu dari 100 peserta 97 orang tiba-tiba sakit perut?hahahahaha.... Iki bisa berada di 3 besar kan?
Astaghfirullah.....bukan mendoakan yak.
Anyway.....mau dikalungi medali ataupun tidak, berangkat lomba harus selalu dengan hati gembira lah. Sebagai ibu, lomba ke luar kota diniatkan saja untuk piknik, re.....kre.....a.....si. Selain  traveling, teriak-teriak di arena ngasih suport atlet itu bisa jadi pelepasan kepenatan tersendiri :D
Orang tua pada dasarnya berperan sebagai coach. Bukan dalam arti coach secara teknik permainan/olah raga, tetapi lebih dalam arti sebagai pendamping psikologis atlet. Sama dengan perlombaan yang lain, perlombaan esok pun targetnya membantu Iki mengasah persistence (ketekunan) dan resilience-nya (ketangguhan menghadapi situasi yang sulit) saat lelah dan kantuk melanda namun harus tetap fokus mencapai goal-nya. Menjadi orang tua atlet berarti membimbing si anak/atlet untuk belajar membuat tujuan (visi, misi)  apa yang ingin dicapainya di kegiatan yang diikutinya, dan belajar disiplin. Menjadi orang tua atlet juga berarti sebagai mentor untuk anak bagaimana belajar bekerja sama dalam tim. Pendek kata, orang tua sebagai coach bertugas mengunakan tim dan kompetisi sebagai sarana mengembangkan kepemimpinan dan etika. Dalam tim Iki dan teman-teman belajar untuk menjadi orang yang dipimpin oleh coach. Bahkan belajar saling memimpin dan dipimpin sesama teman seperti halnya saling mendukung dan memotivasi saat lelah melanda, berbagi tugas memelihara barang tim dan saling mensuport saat ada yang berlaga di arena. Tak jarang kawan setim adalah juga lawan di arena. Saat itulah pelajaran bertanding dan bersanding ada. Lawan di arena dan menyapa sebagai kawan saat garis finis usai. Jamak kita mengenalnya sebagai istilah Fair play, itulah pelajaran etika.
Tim dan kompetisi itu hanya alat, kawah candradimuka-nya Iki untuk berlatih menghadapi kehidupan yang lebih luas dimensinya.
Eits.....judulnya jadi sersan nih. Santai tapi serius hahahahahahaha.....
Niat pergi lombanya untuk bersantai tapi modalnya pemikiran yang serius.
Meski tidak hendak menggapai podium juara, namun hadir ke KRAP Intan Pari besok tetaplah harus dengan yel Veni, Vidi, Vici. Saya datang, saya lihat dan saya menang. 
Yaa...kemenangan tetaplah dipatok untuk Iki oleh pelatihnya, yaitu kemenangan untuk mengalahkan best time-nya. Perlombaan renang kali ini Iki harus menargetkan dirinya sendiri untuk memperbaiki waktu limitnya. Mengalahkan best time artinya Iki bukanlah dalam tugas mengalahkan orang/perenang lain, tetapi Iki harus belajar mengalahkan diri sendiri! See.......sebuah target yang kecil bagi sebuah pembelajaran yang besar. Love it!!
Berharap esok cerah di musim yang basah. 
Semoga best time Iki terpecahkan, ganbate!



Minggu, 06 Januari 2019

Mengapa harus takut berkompetisi?

"Ibuk, hadiah hiburan itu artinya apa?" tanya Iki.
"Oo...hadiah hiburan itu hadiah yang diberikan untuk peserta lomba yang tidak menang." jawabku.
"Jadi, meskipun dia tidak juara, dia tetap dapat hadiah?"
Aku mengangguk. "Biar ndak sedih Ki, makanya dikasih hadiah."
"Lhaaaah...kalau semua dapat hadiah, yo nanti semuanya tidak mau berusaha keras donk Buk. Lhawong ndak berusaha aja bakal dapat hadiah kog".
Aku tertawa terbahak sambil mengacungkan 👍padanya.

Apa arti lomba jika semua menang?
Kompetisi menghadirkan kegembiraan dan sekaligus situasi yang sangat tidak menyenangkan. Tentu saja perlombaan akan sangat menyenangkan jika kita menang. Namun kemenangan haruslah memerlukan pihak yang kalah. Dan sangat menyakitkan ketika kita berada pada pihak yang kalah tersebut.
Beberapa orang menghindari rasa sakit itu. Bahkan beberapa penggiat pendidikan anak berpendapat tidaklah layak rasa sakit akibat kekalahan itu dibebankan pada anak-anak yang seharusnya dunianya adalah dunia kegembiraan.
Bukankah prinsip dasar kehidupan manusia adalah kompetisi? Coba kita ingat kembali bagaimana satu buah sperma harus berjuang mengalahkan jutaan sperma lain untuk mendapatkan sel telur agar dia berubah menjadi manusia.
Semua manusia yang terlahir memang pantas mendapat sebutan sebagai pemenang, namun itu dikarenakan ada  berjuta-juta sperma lain yang kalah.
Mungkin itu juga sih alasan kenapa takut berkompetisi, ya karena sejak lahir yang pertama kita pelajari adalah kita bukanlah pihak yang kalah tapi pihak yang menang😄
Sayangnya permainan tidak berhenti di situ saja. Pemenang saat lahir itu akan menghadapi berbagai kompetisi-kompetisi lain yang tidak kalah beratnya sepanjang perjalanan hidupnya.
Sander van der Linden Ph.D menuliskan dalam Psychologytoday.com, "In fact, when you look closely, you’ll notice that competition is everywhere in modern society. Economists tell us that competition is an essential force in maintaining productive and efficient markets (i.e., without basic competition between firms, evil monopolies will form). Competition also plays a major role in domestic politics (e.g., presidential elections), foreign relations (e.g., states compete for power and resources), most sports of course, and even the human quest for love is not free of competition. For most people, there is something inexplicably compelling about the nature of competition. Perhaps that’s because, as some scholars argue, “competitiveness” is a biological trait that co-evolved with the basic need for (human) survival".

Kurang lebih terjemahan bebasnya begini:
Kenyataannya di dunia moderen, kompetisi ada di mana-mana. Para ekonom menyatakan bahwa kompetisi adalah faktor penting untuk menata produktifitas dan mengefektifkan pasar (tanpa kompetisi maka 😈setan monopoli akan terbentuk). Kompetisi juga bermain di area politik (pemilihan presiden misalnya), dan pastinya di bidang olah raga, bahkan 💖cinta pun tidak bebas dari kompetisi. Pada banyak orang, sulit menjelaskan alamiahnya kompetisi ini dalam kehidupan. Beberapa ahli beranggapan bahwa kompetisi ini adalah "trait" biologis (definisi mudahnya trait merupakan pola konsisten dari pikiran, perasaan, atau tindakan yang membedakan seseorang dari yang lain) dan berhubungan dengan kebutuhan dasar manusia untuk bertahan hidup.

Begitulah, kompetisi menyapa dalam setiap gerak kehidupan kita.
Selalu ada pro dan kontra dalam memaknai kompetisi terlebih di ranah pendidikan anak. Sebagian pendapat menjalankan kompetisi untuk memacu energi, sebagian yang lain menjauhi kompetisi untuk menghindari rasa sakit pada anak.
Begitu banyak penelitian yang menghasilkan faedah kompetisi (silahkan ngaduk2 sumber ilmu yang menjelaskan tentang hal ini yak😉).
Sedangkan fakta yang menunjukkan beberapa luka traumatik oleh kompetisi seringkali lebih diakibatkan oleh penggunaan kompetisi oleh alasan yang salah. (untuk penawarnya, boleh deh baca tulisan saya sebelumya yang berjudul "migrasi kompetisi ke kolaborasi")
Kompetisi bagaikan pisau bermata dua. Bisa menajamkan kemampuan seseorang, dan sebaliknya bisa melukai. Perlulah kiranya kita senantiasa menambah pengetahuan kita untuk bijak dalam menggunakannya.

Faktanya, kompetisi itu menggairahkan sekaligus menakutkan. NO PAIN, NO GAME! Dan ada kalanya WE NEED PAIN TO LEARNING (😄untuk yang terakhir ini don't try at home sering-sering ya gaes). Dalam kehidupan, kita menggunakan rumus "roda selalu berputar. Ada kala di atas, ada kala di bawah". Dengan kompetisi, kita belajar bagaimana bersikap baik saat menang dan saat kalah. And trust me, Its not easy!
Belajarlah,
Hadapilah,
Dan belajarlah.