Kamis, 17 Januari 2019

Menjadi Coach

Kurang lebih satu tahun tidak mengikuti perlombaan ke luar kota, hari ini bersemangat banget packing segala hal untuk berangkat lomba renang besok ke Karanganyar.
Apa ya yang membuat semangat?
Bakal dapat gelar juara nanti di sana? Jelas nggak. Di atas kertas sesuai basis data time limit bisa diprediksi Iki tidak mungkin meraih gelar juara. Tapi ketentuan Allah tentu melebihi akal manusia kan? Siapa tahu dari 100 peserta 97 orang tiba-tiba sakit perut?hahahahaha.... Iki bisa berada di 3 besar kan?
Astaghfirullah.....bukan mendoakan yak.
Anyway.....mau dikalungi medali ataupun tidak, berangkat lomba harus selalu dengan hati gembira lah. Sebagai ibu, lomba ke luar kota diniatkan saja untuk piknik, re.....kre.....a.....si. Selain  traveling, teriak-teriak di arena ngasih suport atlet itu bisa jadi pelepasan kepenatan tersendiri :D
Orang tua pada dasarnya berperan sebagai coach. Bukan dalam arti coach secara teknik permainan/olah raga, tetapi lebih dalam arti sebagai pendamping psikologis atlet. Sama dengan perlombaan yang lain, perlombaan esok pun targetnya membantu Iki mengasah persistence (ketekunan) dan resilience-nya (ketangguhan menghadapi situasi yang sulit) saat lelah dan kantuk melanda namun harus tetap fokus mencapai goal-nya. Menjadi orang tua atlet berarti membimbing si anak/atlet untuk belajar membuat tujuan (visi, misi)  apa yang ingin dicapainya di kegiatan yang diikutinya, dan belajar disiplin. Menjadi orang tua atlet juga berarti sebagai mentor untuk anak bagaimana belajar bekerja sama dalam tim. Pendek kata, orang tua sebagai coach bertugas mengunakan tim dan kompetisi sebagai sarana mengembangkan kepemimpinan dan etika. Dalam tim Iki dan teman-teman belajar untuk menjadi orang yang dipimpin oleh coach. Bahkan belajar saling memimpin dan dipimpin sesama teman seperti halnya saling mendukung dan memotivasi saat lelah melanda, berbagi tugas memelihara barang tim dan saling mensuport saat ada yang berlaga di arena. Tak jarang kawan setim adalah juga lawan di arena. Saat itulah pelajaran bertanding dan bersanding ada. Lawan di arena dan menyapa sebagai kawan saat garis finis usai. Jamak kita mengenalnya sebagai istilah Fair play, itulah pelajaran etika.
Tim dan kompetisi itu hanya alat, kawah candradimuka-nya Iki untuk berlatih menghadapi kehidupan yang lebih luas dimensinya.
Eits.....judulnya jadi sersan nih. Santai tapi serius hahahahahahaha.....
Niat pergi lombanya untuk bersantai tapi modalnya pemikiran yang serius.
Meski tidak hendak menggapai podium juara, namun hadir ke KRAP Intan Pari besok tetaplah harus dengan yel Veni, Vidi, Vici. Saya datang, saya lihat dan saya menang. 
Yaa...kemenangan tetaplah dipatok untuk Iki oleh pelatihnya, yaitu kemenangan untuk mengalahkan best time-nya. Perlombaan renang kali ini Iki harus menargetkan dirinya sendiri untuk memperbaiki waktu limitnya. Mengalahkan best time artinya Iki bukanlah dalam tugas mengalahkan orang/perenang lain, tetapi Iki harus belajar mengalahkan diri sendiri! See.......sebuah target yang kecil bagi sebuah pembelajaran yang besar. Love it!!
Berharap esok cerah di musim yang basah. 
Semoga best time Iki terpecahkan, ganbate!



Minggu, 06 Januari 2019

Mengapa harus takut berkompetisi?

"Ibuk, hadiah hiburan itu artinya apa?" tanya Iki.
"Oo...hadiah hiburan itu hadiah yang diberikan untuk peserta lomba yang tidak menang." jawabku.
"Jadi, meskipun dia tidak juara, dia tetap dapat hadiah?"
Aku mengangguk. "Biar ndak sedih Ki, makanya dikasih hadiah."
"Lhaaaah...kalau semua dapat hadiah, yo nanti semuanya tidak mau berusaha keras donk Buk. Lhawong ndak berusaha aja bakal dapat hadiah kog".
Aku tertawa terbahak sambil mengacungkan 👍padanya.

Apa arti lomba jika semua menang?
Kompetisi menghadirkan kegembiraan dan sekaligus situasi yang sangat tidak menyenangkan. Tentu saja perlombaan akan sangat menyenangkan jika kita menang. Namun kemenangan haruslah memerlukan pihak yang kalah. Dan sangat menyakitkan ketika kita berada pada pihak yang kalah tersebut.
Beberapa orang menghindari rasa sakit itu. Bahkan beberapa penggiat pendidikan anak berpendapat tidaklah layak rasa sakit akibat kekalahan itu dibebankan pada anak-anak yang seharusnya dunianya adalah dunia kegembiraan.
Bukankah prinsip dasar kehidupan manusia adalah kompetisi? Coba kita ingat kembali bagaimana satu buah sperma harus berjuang mengalahkan jutaan sperma lain untuk mendapatkan sel telur agar dia berubah menjadi manusia.
Semua manusia yang terlahir memang pantas mendapat sebutan sebagai pemenang, namun itu dikarenakan ada  berjuta-juta sperma lain yang kalah.
Mungkin itu juga sih alasan kenapa takut berkompetisi, ya karena sejak lahir yang pertama kita pelajari adalah kita bukanlah pihak yang kalah tapi pihak yang menang😄
Sayangnya permainan tidak berhenti di situ saja. Pemenang saat lahir itu akan menghadapi berbagai kompetisi-kompetisi lain yang tidak kalah beratnya sepanjang perjalanan hidupnya.
Sander van der Linden Ph.D menuliskan dalam Psychologytoday.com, "In fact, when you look closely, you’ll notice that competition is everywhere in modern society. Economists tell us that competition is an essential force in maintaining productive and efficient markets (i.e., without basic competition between firms, evil monopolies will form). Competition also plays a major role in domestic politics (e.g., presidential elections), foreign relations (e.g., states compete for power and resources), most sports of course, and even the human quest for love is not free of competition. For most people, there is something inexplicably compelling about the nature of competition. Perhaps that’s because, as some scholars argue, “competitiveness” is a biological trait that co-evolved with the basic need for (human) survival".

Kurang lebih terjemahan bebasnya begini:
Kenyataannya di dunia moderen, kompetisi ada di mana-mana. Para ekonom menyatakan bahwa kompetisi adalah faktor penting untuk menata produktifitas dan mengefektifkan pasar (tanpa kompetisi maka 😈setan monopoli akan terbentuk). Kompetisi juga bermain di area politik (pemilihan presiden misalnya), dan pastinya di bidang olah raga, bahkan 💖cinta pun tidak bebas dari kompetisi. Pada banyak orang, sulit menjelaskan alamiahnya kompetisi ini dalam kehidupan. Beberapa ahli beranggapan bahwa kompetisi ini adalah "trait" biologis (definisi mudahnya trait merupakan pola konsisten dari pikiran, perasaan, atau tindakan yang membedakan seseorang dari yang lain) dan berhubungan dengan kebutuhan dasar manusia untuk bertahan hidup.

Begitulah, kompetisi menyapa dalam setiap gerak kehidupan kita.
Selalu ada pro dan kontra dalam memaknai kompetisi terlebih di ranah pendidikan anak. Sebagian pendapat menjalankan kompetisi untuk memacu energi, sebagian yang lain menjauhi kompetisi untuk menghindari rasa sakit pada anak.
Begitu banyak penelitian yang menghasilkan faedah kompetisi (silahkan ngaduk2 sumber ilmu yang menjelaskan tentang hal ini yak😉).
Sedangkan fakta yang menunjukkan beberapa luka traumatik oleh kompetisi seringkali lebih diakibatkan oleh penggunaan kompetisi oleh alasan yang salah. (untuk penawarnya, boleh deh baca tulisan saya sebelumya yang berjudul "migrasi kompetisi ke kolaborasi")
Kompetisi bagaikan pisau bermata dua. Bisa menajamkan kemampuan seseorang, dan sebaliknya bisa melukai. Perlulah kiranya kita senantiasa menambah pengetahuan kita untuk bijak dalam menggunakannya.

Faktanya, kompetisi itu menggairahkan sekaligus menakutkan. NO PAIN, NO GAME! Dan ada kalanya WE NEED PAIN TO LEARNING (😄untuk yang terakhir ini don't try at home sering-sering ya gaes). Dalam kehidupan, kita menggunakan rumus "roda selalu berputar. Ada kala di atas, ada kala di bawah". Dengan kompetisi, kita belajar bagaimana bersikap baik saat menang dan saat kalah. And trust me, Its not easy!
Belajarlah,
Hadapilah,
Dan belajarlah.