Hari ini Iki memutuskan tidak sekolah. Bukan karena dia tidak mengerjakan semua tugas pagi sehingga ia harus absen sekolah, tetapi karena kegagalannya menjaga hati. Mulai dari mengaji hingga tugas membuang sampah sudah dilaksanakan Iki pagi ini tetapi semua dilakukan dengan energi kemarahan. Hari sebelumnya Iki pulang pukul 16.00 karena ada kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan dilanjutkan latihan taekwondo di malam harinya. Tak ayal lelah dan kantuk menderanya di keesokan harinya sehingga berimbas pada emosinya.
Sebenarnya cukup alasan memberi toleransi pada Iki untuk tidak melakukan tugas pagi atas nama lelah fisik. Namun Iki perlu belajar dan berlatih endurance hati, belajar bagaimana dia tetap tenang dan sabar saat kekuatan tubuh di titik nadir.
Aturan di rumah, boleh absen sekolah tetapi tidak boleh absen belajar. Jadi seperti biasanya jika sedang tidak sekolah, maka tugas-tugas belajar sudah disiapkan untuk Iki. Tugas membaca buku diselesaikan dengan baik oleh Iki. Namun tugas menulis membuatku tertegun,
Membaca tulisan Iki melintaskan ingatan kisah bangsa Arab yang dituturkan oleh Martin Lings, "...keindahan bahasa merupakan dambaan setiap orang tua terhadap anak-anak mereka. Nilai seseorang umumnya dilihat dari kefasihan dalam bertutur kata, dan puncak kefasihan itu adalah puisi."
Iki belumlah mencapai puncak keindahan bahasa tersebut. Namun di dalam goresan cakar ayam anak kelas tiga SD, sebuah bahasa yang apik telah ditorehkan Iki untuk mentransformasikan isi hati dan pikirannya.
Alhamdulillah! Untuk raihan pelajaran hidup Iki hari ini.
Marah adalah penyakit hati,
Berlatihlah mengatur marah untuk menjaga hati.
