Minggu, 07 April 2019

Jurnal psikologiku: Surga adalah Nasi Goreng

Surau itu bisa dibilang tidak pernah sepi dari jamaah sholat fardhu. Meski tidak penuh, tetapi para sesepuh sekitar surau pasti hadir membentuk satu hingga dua shaf sholat. Dan karena jamaahnya kebanyakan sesepuh, maka suasana sholat dalam surau kami pun terasa begitu tenang. Tidak terdengar riuh rendah suara anak-anak kecil mengganggu kekhusyukan sholat. Namun justru disitulah letak masalahnya.
Muhammad Al Fatih, seorang tokoh penakluk konstantinopel pernah berkata, 
"Jika kalian tidak lagi mendengar riang tawadan gelakbahagia anak-anak di masjid-masjid, maka waspadalah! Saat itu kalian dalam bahaya."
Dan benarlah adanya. Surau itu kini telah kehilangan generasi penerus.
***


Menilik kembali sejarah Rasulullah S.A.W,  surau ataupun masjid dalam istilah lebih luas, sesungguhnya adalah pusat peradaban masyarakat. Berpijak dari hal tersebut, misi penyelamatan surau pun dilakukan. Dengan mengambil momentum Ramdahan yang penuh semangat spiritual, anak-anak coba diaktifkan kembali untuk memakmurkan surau. Beberapa kegiatan dirancang semenarik mungkin agar anak-anak datang ke surau. Diantara kegiatan tersebut adalah tadarusan sebelum saat berbuka. Setiap kali anak-anak datang tadarus yang dilanjutkan buka bersama dan sholat jamaah maghrib, anak-anak berhak memasukkan satu koin uang ke dalam celengan infak. 
Pengisian celelngan ini berfungsi sebagai presensi dan isi celengan kelak akan dihitung jumlah koinnya sebelum diinfakkan ke surau. Koin terbanyak –bukan nominal terbanyak- yang nantinya akan berhak mendapatkan hadiah.
Cara ini sempat mendapat pertentangan dari beberapa sesepuh surau karena dianggap mengajarkan ketidakikhlasan dalam beribadah.
***
Missing child, anak-anak yang hilang dari surau diidentifikasikan sebagai anak usia sekolah dasar di kisaran 7 – 12 tahun. Perkembangan kognitif anak usia ini oleh Piaget melalui penelitiannya dicikiran telah mampu berpikir operasional yaitu berpikir dengan prosedur yang jelas dan logis serta dapat berpikir secara sebaliknya atau membalikkan prosedur tersebut (irreversible). Sebagai contoh, anak dapat membagi sepotong donat menjadi empat dan mengembalikan potong-potongan donat tersebut membentuk satu kesatuan lingkaran kembali. Namun meski anak-anak pada usia ini telah dapat berpikir logis, mereka hanya mampu mengoperasikan mental berkenaan dengan benda-benda yang bersifat konkret. Anak usia ini masih memiliki masalah mengenai berpikir abstrak.
Surga bagi seorang anak adalah sebuah konsep yang abstrak karena anak-anak tidak secara konkret atau nyata melihat surga. Seringkali orang tua menjelaskan tentang surga melalui pemandangan-pemandangan indah ataupun kenikmatan-kenikmatan yang dicerap anak sebagai pengalaman atau sensasi yang luar biasa. Gambaran konkret ini diberikan untuk menjembatani keterbatasan berpikir anak.

Iki (8 tahun), sedang belajar berpuasa sunah Senin – Kamis. Awalnya Iki tidak tertarik untuk mencoba puasa ketika ibunya menjelaskan adanya pahala bagi orang berpuasa. Iki tidak mengerti apa itu pahala dan ketika disetarakan pahala sebagai hadiah, Iki sontak membayangkan mainan dan makanan yang diinginkannya. Selanjutnya yang terjadi, Iki senang berpuasa karena sudah ada nasi goreng lengkap dengan bakso, sosis, telur, babat, dan jerohan ayam untuknya berbuka sebagai hadiah berpuasa di hari itu. Surga bagi Iki adalah nasi goreng spesial.

Lantas bagaimana dengan ikhlas?
Nampaknya konsep ikhlas akan menjadi sedikit lebih rumit dari sekedar menggambarkan surga dengan simbol-simbol keindahan ataupun kenikmatan. Terlebih ikhlas senantiasa disandingkan dengan Tuhan. Artinya, jika konsep ikhlas sendiri telah begitu abstrak , bisa dibayangkan bagaimana mencari penggambaran yang konkret untuk sebuah konsep tuhan bagi anak-anak?J

Perkembangan kognitif ini selanjutnya memegang peranan penting dalam perkembangan penalaran moral seorang anak. Dalam studinya, Kohlberg mendapatkan bahwa pertimbangan moral anak –anak yang berusia 7 tahun atau kurang hingga usia 13 tahun bersifat superior pada tingkat satu yang disebutnya sebagai Moralitas Prakonvensional. Pada tingkat ini anak-anak bertindak berdasarkan pada orientasi hukuman yaitu tindakan dilakukan untuk mematuhi peraturan guna menghindari hukuman, ataukah orientasi gagasan yaitu memastikan akan mendapat ganjaran/balas budi.
Kematangan perkembangan kognitif bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi perkembangan moral. Nilai dan perilaku moral yang dianut orang tua serta standar moral yang dianut oleh teman sebaya, tokoh-tokoh dalam buku ataupun televisi juga ikut menentukan kematangan perkembangan anak dalam mempertimbangkan mana yang baik dan benar. Namun demikian dari penelitian yang diperoleh Kohlberg memperlihatkan perilaku moral alamiah anak-anak lebih mudah diaktifkan dengan orientasi ganjaran – hukuman.
Mengenai penggunaan hadiah dalam proses belajar, telah banyak bukti yang menyatakan bahwa penguatan (reward) dapat sangat efektif memodifikasi perilaku. Hadiah yang merupakan imbalan ekstrinsik sangat bermanfaat untuk membentuk perilaku seperti yang diinginkan. Namun studi lebih lanjut menunjukkan bahwa pemberian hadiah/reward tambahan (baik dalam hal penambahan waktu ataupun kuantitas) sebenarnya pun dapat mengganggu perilaku yang sudah dipertahankan dengan baik. Selain persetujuan sosial (social approval) yang selanjutnya mengambil alih alasan seseorang untuk tetap mempertahankan perilaku, kemungkinan lain adalah keinginan untuk mengontrol diri sendiri.
Ilustrasinya, seorang anak tidak lagi tertarik pada hadiah ketika dia sudah disiplin sholat jamaah di masjid karena selain malu atas penilaian sosial apabila terus menerus mendapat hadiah hanya agar sholat jamaah di masjid, juga ada rasa mampu ataupun kebanggaan jika dia pergi jamaah sholat ke masjid atas kehendak pribadi.

Dengan demikian, agar fungsi hadiah menjadi optimal, maka imbalan ekstrinsik (hadiah) dapat dihapuskan sedikit demi sedikit setelah perilaku yang diharapkan dari seorang anak diperoleh. Hal ini sekaligus mematahkan kekhawatiran beberapa orang bahwa memberikan hadiah dalam proses belajar tidak akan mampu menumbuhkan konsep dan sifat ikhlas dalam diri anak.
Berbicara kembali mengenai ikhlas, yang dibutuhkan hanyalah sedikit bersabar dalam upaya memahamkannya kepada anak. Secara umum, semakin tinggi tahap perkembangan kognitif seseorang, maka semakin teratur dan semakin abstrak cara berpikirnya. Guru ataupun orang tua sebaiknya memahami tahap-tahap perkembangan kognitif pada anak agar dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan tahap-tahap tersebut agar dapat dicapai hasil yang lebih bermakna.

Anak-anak laksana tunas bunga. Bagaimana dia akan berkembang mewarnai dunia tergantung kita merawatnya.