Sabtu, 11 Februari 2017

UN vs Ektrakurikuler

Part 1
Lebih dari satu kali Ini bertanya, "Ibuk, kenapa teman-temanku kalau kelas VI pada libur latihan bahkan kakak kelas 6 ada yang pingin nonton bioskop dilarang bu Guru ?"
Setiapnya selalu saya jawab, "mau UN nduk".
Dan pastilah diikuti pertanyaan selanjutnya, "emang kalo UN ndak boleh kemana-mana dan ndak boleh ngapa-ngapain ya?"
Biasanya sih saya jawab, "biar fokus". Tapi ketika pertanyaan kemarin dilontarkan lagi saya hanya diam. Berpikir. Ni anak nanya berulang pasti dia tidak yakin dengan jawaban saya. Saya pun akhirnya tidak yakin dengan jawaban saya sendiri. Apa memang UN harus dihadapi dengan tindakan seperti itu?
Sebelum menjawab pertanyaan Ini akhirnya saya memutuskan untuk "sekolah" lagi.
UN adalah alat untuk menguji kompetensi yang berdomain di otak. Jadi #OTAK adalah hastag sumber belajar saya.
Dari banyak sumber belajar ada satu tulisan yang paling menarik untuk saya dan akhirnya saya mencoba untuk merangkumnya.

Part 2
Awam mengenal ada otak kanan dan otak kiri dengan pemahaman bahwa otak kanan adalah otak logika dan otak kiri adalah otak kreatif.
Karya orisinil dari Dr.Roger William Sperry Ph.D yang menemukan perbedaan fungsi antara belahan(hemisphare)otak kanan dan otak kiri tetaplah valid sampai sekarang namun menjaga penemuan itu tetap pada perspektif yang benar itu yang tidak mudah.
Membayangkan kedua belahan otak itu bekerja sendiri-sendiri menjalankan fungsinya adalah suatu pemikiran yang keliru dan ketinggalan jaman. Sesungguhnya otak kita adalah satu dan kedua belahan otak dihubungkan oleh serabut yang disebut corpus collosum yang menyebabkan terhubungnya pesan antara kedua belahan otak. Tidak ada pembelajaran yang efektif yang hanya dilakukan satu sisi otak saja karena otak kita interaktif sifatnya. Contoh: Saat kita mendengarkan orang bicara, otak kiri memproses kata-kata, definisi dan bahasa. Pada saat yang sama otak kanan juga aktif untuk memproses modulasi nada, tempo dan volume dari komunikasi tersebut. Sehingga kata "Ini" dengan nada rendah(berita) dengan nada tinggi (marah) memiliki perbedaan makna.
Berbicara tentang "agungnya otak kiri", sekolah adalah tempat yang paling banyak disalahkan. Diperkirakan hampir 90% pembelajaran di sekolah dominan pada belahan otak kiri. Selain fenomena matematika diposisikan sebagai ikon bintang mata pelajaran, metode ceramah adalah metode yang paling mudah dilakukan para guru dalam mengajar. Dan itu lebih banyak mengaktifkan otak kiri.
Kenapa lebih banyak siswa yang bosan saat guru menerangkan? Karena otak kiri siswa dipacu untuk bekerja, sementara otak kanannya menganggur tanpa aktivitas. Aktivitas berlebih ini berarti menghasilkan metabolisme organ yang lebih banyak juga dan itu menyebabkan kondisi cepat lelah. Metabolisme berlebih memerlukan nutrisi yang berlebih pula oleh otak yaitu oksigen dan glukosa. Hal ini berakibat otak kiri lebih banyak mengambil oksigen dan glukosa sehingga otak kanan menjadi kekurangan. Alhasil saat guru mengajar tidak sedikit siswa yang melakukan kegiatan melamun, corat-coret kertas, baca komik, jahil sama teman dll sebagai kompensasi otomatis yang dilakukan otak kanan yang juga memerlukan oksigen dan glukosa.
Sangat penting bagi kedua belahan otak untuk dikembangkan secara seimbang dan sengaja agar fungsi masing-masing belahan berjalan seimbang dan saling menguatkan. Jika hanya terfokus pada salah satu belahan maka belahan otak yang lain yang kurang berkembang  akan terhambat dalam menjankan fungsinya.
Masalahnya bukanlah terletak di otak kanan atau kiri yang lebih hebat karena belahan otak kanan dan belahan otak kiri keduanya  sangat penting. Apabila kedua belahan otak dipekerjakan secara bersamaan maka akan tercipta kemampuan dan efektifitas otak yang 5 hingga 10 kali lebih tinggi dari sebelumnya.
Yang diperlukan adalah menyadari bahwa ada cara berpikir yang berbeda dalam setiap manusia dan mengetahui apa preferensi(kecenderungan) alamiah kita. Jika kita cenderung aktif dengan otak kiri daripada otak kanan, maka kita perlu mencoba pendekatan baru di luar dominan otak kita sehingga dapat melibatkan kedua belahan otak.

Part 3
Sekarang saya siap menjawab pertanyaan Ini. Bahwa UN justru menakutkan jika harus dihadapi dengan latihan soal sebagai menu utama sekaligus camilan😂karena itu artinya ada yang kelaparan oksigen dan glukosa di wilayah otak kita. Dan artinya sama dengan tidak efektif.
Gunakan dan selalu libatkan kedua belahan otak sesering mungkin. Jika  belum mampu meramu aktifitas yang melibatkan keduanya sesering mungkin setidaknya biarkan otak kanan dan kiri beraktifitas secara bergantian agar mereka mendapat nutrisi yang seimbang. UN bukan tentang mengasup otak dengan belajar ala sekolah hingga buncit namun tentang manajemen waktu. Ya mengatur waktu. Pengelolaan waktu untuk belajar pelajaran sekolah, tetap olah raga(dimanapun) karena olah raga paten berguna melancarkan aliran darah yang notabene penuh dengan oksigen, dan sekali waktu nonton/mendengarkan musik atau sekedar bermai/ngobrol dengan teman-toh semuanya itu yang mengelola otak kita-dan jangan dilupakan Tidur! Karena itulah saat otak bekerja tanpa gangguan untuk menata informasi ke dalam folder-foldernya.
DUA BELAHAN OTAK LEBIH HEBAT DARIPADA SATU SISI OTAK SAJA. Otak kita memang satu kan?😉

# tulisan ini merupakan rangkuman sehingga melibatkan pengurangan dan penambahan kalimat dengan gaya penulis selain kalimat saduran asli dari sumber https://m.facebook.com/notes/wahyu-agung-putra-

#UN siap, latihan tetap, bermain semangat, tidur&makan nikmat, jangan tinggalkan sholat, insyaallah hasilnya mantap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar