Kurang lebih satu tahun tidak mengikuti perlombaan ke luar kota, hari ini bersemangat banget packing segala hal untuk berangkat lomba renang besok ke Karanganyar.
Apa ya yang membuat semangat?
Bakal dapat gelar juara nanti di sana? Jelas nggak. Di atas kertas sesuai basis data time limit bisa diprediksi Iki tidak mungkin meraih gelar juara. Tapi ketentuan Allah tentu melebihi akal manusia kan? Siapa tahu dari 100 peserta 97 orang tiba-tiba sakit perut?hahahahaha.... Iki bisa berada di 3 besar kan?
Astaghfirullah.....bukan mendoakan yak.
Anyway.....mau dikalungi medali ataupun tidak, berangkat lomba harus selalu dengan hati gembira lah. Sebagai ibu, lomba ke luar kota diniatkan saja untuk piknik, re.....kre.....a.....si. Selain traveling, teriak-teriak di arena ngasih suport atlet itu bisa jadi pelepasan kepenatan tersendiri :D
Apa ya yang membuat semangat?
Bakal dapat gelar juara nanti di sana? Jelas nggak. Di atas kertas sesuai basis data time limit bisa diprediksi Iki tidak mungkin meraih gelar juara. Tapi ketentuan Allah tentu melebihi akal manusia kan? Siapa tahu dari 100 peserta 97 orang tiba-tiba sakit perut?hahahahaha.... Iki bisa berada di 3 besar kan?
Astaghfirullah.....bukan mendoakan yak.
Anyway.....mau dikalungi medali ataupun tidak, berangkat lomba harus selalu dengan hati gembira lah. Sebagai ibu, lomba ke luar kota diniatkan saja untuk piknik, re.....kre.....a.....si. Selain traveling, teriak-teriak di arena ngasih suport atlet itu bisa jadi pelepasan kepenatan tersendiri :D
Orang tua pada dasarnya berperan sebagai coach. Bukan dalam arti coach secara teknik permainan/olah raga, tetapi lebih dalam arti sebagai pendamping psikologis atlet. Sama dengan perlombaan yang lain, perlombaan esok pun targetnya membantu Iki mengasah persistence (ketekunan) dan resilience-nya (ketangguhan menghadapi situasi yang sulit) saat lelah dan kantuk melanda namun harus tetap fokus mencapai goal-nya. Menjadi orang tua atlet berarti membimbing si anak/atlet untuk belajar membuat tujuan (visi, misi) apa yang ingin dicapainya di kegiatan yang diikutinya, dan belajar disiplin. Menjadi orang tua atlet juga berarti sebagai mentor untuk anak bagaimana belajar bekerja sama dalam tim. Pendek kata, orang tua sebagai coach bertugas mengunakan tim dan kompetisi sebagai sarana mengembangkan kepemimpinan dan etika. Dalam tim Iki dan teman-teman belajar untuk menjadi orang yang dipimpin oleh coach. Bahkan belajar saling memimpin dan dipimpin sesama teman seperti halnya saling mendukung dan memotivasi saat lelah melanda, berbagi tugas memelihara barang tim dan saling mensuport saat ada yang berlaga di arena. Tak jarang kawan setim adalah juga lawan di arena. Saat itulah pelajaran bertanding dan bersanding ada. Lawan di arena dan menyapa sebagai kawan saat garis finis usai. Jamak kita mengenalnya sebagai istilah Fair play, itulah pelajaran etika.
Tim dan kompetisi itu hanya alat, kawah candradimuka-nya Iki untuk berlatih menghadapi kehidupan yang lebih luas dimensinya.
Eits.....judulnya jadi sersan nih. Santai tapi serius hahahahahahaha.....
Niat pergi lombanya untuk bersantai tapi modalnya pemikiran yang serius.
Meski tidak hendak menggapai podium juara, namun hadir ke KRAP Intan Pari besok tetaplah harus dengan yel Veni, Vidi, Vici. Saya datang, saya lihat dan saya menang.
Yaa...kemenangan tetaplah dipatok untuk Iki oleh pelatihnya, yaitu kemenangan untuk mengalahkan best time-nya. Perlombaan renang kali ini Iki harus menargetkan dirinya sendiri untuk memperbaiki waktu limitnya. Mengalahkan best time artinya Iki bukanlah dalam tugas mengalahkan orang/perenang lain, tetapi Iki harus belajar mengalahkan diri sendiri! See.......sebuah target yang kecil bagi sebuah pembelajaran yang besar. Love it!!
Berharap esok cerah di musim yang basah.
Semoga best time Iki terpecahkan, ganbate!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar