Surau itu bisa dibilang tidak
pernah sepi dari jamaah sholat fardhu. Meski tidak penuh, tetapi para sesepuh
sekitar surau pasti hadir membentuk satu hingga dua shaf sholat. Dan karena
jamaahnya kebanyakan sesepuh, maka suasana sholat dalam surau kami pun terasa
begitu tenang. Tidak terdengar riuh rendah suara anak-anak kecil mengganggu
kekhusyukan sholat. Namun justru disitulah letak masalahnya.
Muhammad Al Fatih, seorang
tokoh penakluk konstantinopel pernah berkata,
"Jika kalian tidak lagi mendengar riang tawadan gelakbahagia anak-anak
di masjid-masjid, maka waspadalah! Saat itu kalian dalam bahaya."
Dan
benarlah adanya. Surau itu kini telah kehilangan generasi penerus.
***
Menilik kembali sejarah Rasulullah S.A.W, surau ataupun masjid dalam istilah lebih luas, sesungguhnya adalah pusat peradaban masyarakat. Berpijak dari hal tersebut,
misi penyelamatan surau pun dilakukan. Dengan mengambil momentum Ramdahan yang
penuh semangat spiritual, anak-anak coba diaktifkan kembali untuk memakmurkan
surau. Beberapa kegiatan dirancang semenarik mungkin agar anak-anak datang ke
surau. Diantara kegiatan tersebut adalah tadarusan sebelum saat berbuka. Setiap
kali anak-anak datang tadarus yang dilanjutkan buka bersama dan sholat jamaah
maghrib, anak-anak berhak memasukkan satu koin uang ke dalam celengan infak.
Pengisian
celelngan ini berfungsi sebagai presensi dan isi celengan kelak akan dihitung
jumlah koinnya sebelum diinfakkan ke surau. Koin terbanyak –bukan nominal
terbanyak- yang nantinya akan berhak mendapatkan hadiah.
Cara
ini sempat mendapat pertentangan dari beberapa sesepuh surau karena dianggap
mengajarkan ketidakikhlasan dalam beribadah.
***
Missing
child, anak-anak yang hilang dari surau diidentifikasikan sebagai anak usia
sekolah dasar di kisaran 7 – 12 tahun. Perkembangan kognitif anak usia ini oleh
Piaget melalui penelitiannya dicikiran telah mampu berpikir operasional yaitu
berpikir dengan prosedur yang jelas dan logis serta dapat berpikir secara
sebaliknya atau membalikkan prosedur tersebut (irreversible). Sebagai contoh, anak dapat membagi sepotong donat
menjadi empat dan mengembalikan potong-potongan donat tersebut membentuk satu
kesatuan lingkaran kembali. Namun meski anak-anak pada usia ini telah dapat berpikir
logis, mereka hanya mampu mengoperasikan mental berkenaan dengan benda-benda
yang bersifat konkret. Anak usia ini masih memiliki masalah mengenai berpikir abstrak.
Surga bagi seorang anak adalah
sebuah konsep yang abstrak karena anak-anak tidak secara konkret atau nyata
melihat surga. Seringkali orang tua menjelaskan tentang surga melalui
pemandangan-pemandangan indah ataupun kenikmatan-kenikmatan yang dicerap anak
sebagai pengalaman atau sensasi yang luar biasa. Gambaran konkret ini diberikan
untuk menjembatani keterbatasan berpikir anak.
Iki (8 tahun), sedang
belajar berpuasa sunah Senin – Kamis. Awalnya Iki tidak tertarik untuk mencoba
puasa ketika ibunya menjelaskan adanya pahala bagi orang berpuasa. Iki tidak
mengerti apa itu pahala dan ketika disetarakan pahala sebagai hadiah, Iki
sontak membayangkan mainan dan makanan yang diinginkannya. Selanjutnya yang
terjadi, Iki senang berpuasa karena sudah ada nasi goreng lengkap dengan bakso,
sosis, telur, babat, dan jerohan ayam untuknya berbuka sebagai hadiah berpuasa
di hari itu. Surga bagi
Iki adalah nasi goreng spesial.
Lantas
bagaimana dengan ikhlas?
Nampaknya konsep ikhlas akan menjadi
sedikit lebih rumit dari sekedar menggambarkan surga dengan simbol-simbol
keindahan ataupun kenikmatan. Terlebih ikhlas senantiasa disandingkan dengan Tuhan. Artinya, jika konsep ikhlas
sendiri telah begitu abstrak , bisa dibayangkan bagaimana mencari penggambaran
yang konkret untuk sebuah konsep tuhan bagi anak-anak?J
Perkembangan kognitif ini selanjutnya
memegang peranan penting dalam perkembangan penalaran moral seorang anak. Dalam
studinya, Kohlberg mendapatkan bahwa pertimbangan moral anak –anak yang berusia
7 tahun atau kurang hingga usia 13 tahun bersifat superior pada tingkat satu
yang disebutnya sebagai Moralitas
Prakonvensional. Pada tingkat ini anak-anak bertindak berdasarkan pada orientasi hukuman yaitu tindakan
dilakukan untuk mematuhi peraturan guna menghindari hukuman, ataukah orientasi gagasan yaitu memastikan akan
mendapat ganjaran/balas budi.
Kematangan perkembangan kognitif bukan satu-satunya
faktor yang mempengaruhi perkembangan moral. Nilai dan perilaku moral yang
dianut orang tua serta standar moral yang dianut oleh teman sebaya, tokoh-tokoh
dalam buku ataupun televisi juga ikut menentukan kematangan perkembangan anak
dalam mempertimbangkan mana yang baik dan benar. Namun demikian dari penelitian
yang diperoleh Kohlberg memperlihatkan perilaku moral alamiah anak-anak lebih
mudah diaktifkan dengan orientasi ganjaran – hukuman.
Mengenai penggunaan hadiah dalam proses belajar, telah
banyak bukti yang menyatakan bahwa penguatan (reward) dapat sangat efektif memodifikasi perilaku. Hadiah yang
merupakan imbalan ekstrinsik sangat
bermanfaat untuk membentuk perilaku seperti yang diinginkan. Namun studi lebih
lanjut menunjukkan bahwa pemberian hadiah/reward
tambahan (baik dalam hal penambahan waktu ataupun kuantitas) sebenarnya pun
dapat mengganggu perilaku yang sudah dipertahankan dengan baik. Selain persetujuan
sosial (social approval) yang
selanjutnya mengambil alih alasan seseorang untuk tetap mempertahankan
perilaku, kemungkinan lain adalah keinginan untuk mengontrol diri sendiri.
Ilustrasinya,
seorang anak tidak lagi tertarik pada hadiah ketika dia sudah disiplin sholat jamaah di masjid karena
selain malu atas penilaian sosial apabila terus menerus mendapat hadiah hanya agar sholat jamaah di masjid, juga ada rasa mampu ataupun kebanggaan jika
dia pergi jamaah sholat ke masjid atas kehendak pribadi.
Dengan demikian, agar fungsi hadiah menjadi optimal,
maka imbalan ekstrinsik (hadiah) dapat dihapuskan sedikit demi sedikit setelah
perilaku yang diharapkan dari seorang anak diperoleh. Hal ini sekaligus
mematahkan kekhawatiran beberapa orang bahwa memberikan hadiah dalam proses belajar
tidak akan mampu menumbuhkan konsep dan sifat ikhlas dalam diri anak.
Berbicara kembali mengenai ikhlas,
yang dibutuhkan hanyalah sedikit bersabar dalam upaya memahamkannya kepada
anak. Secara umum, semakin tinggi tahap perkembangan kognitif seseorang, maka
semakin teratur dan semakin abstrak cara berpikirnya. Guru ataupun orang tua
sebaiknya memahami tahap-tahap perkembangan kognitif pada anak agar dalam
merancang dan melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan tahap-tahap
tersebut agar dapat dicapai hasil yang lebih bermakna.
Anak-anak laksana tunas bunga. Bagaimana dia akan berkembang mewarnai dunia tergantung kita merawatnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar