Kamis, 06 Oktober 2016

MIGRASI KOMPETISI ke KOLABORASI

Sedang jalan-jalan di dunia maya mencari bekal untuk KRAP PANTURA di Brebes besok malah nemu ungkapan apik Joey Alexander,
"I just want to play and winning isn’t my goal. I came to the Grammys to play. Didn’t expect to win. It’s all about the music. The opportunity to play for both shows was a huge blessing”
Alhasil jatuh cinta dan dibungkus, bawa pulang, diolah jadi sajian yang semoga bermanfaat :)

MIGRASI KOMPETISI ke KOLABORASI
Di zaman sekarang, hampir semua kegiatan anak bersifat kompetisi bahkan kegiatan yang sifatnya untuk bersenang-senang sekalipun ikut dilombakan.
Banyak orang tua pun akhirnya  berlomba-lomba menyertakan anaknya di berbagai macam perlombaan dengan kekhawatiran bila tidak ikut lomba yang menghasilkan piala, bagaimana mungkin anakku bisa dikatakan berprestasi?
Tidak ada yang salah dengan perlombaan. Hanya saja bingkai pemikiran orang tua yang selayaknya diperbaharui.  Kita seringkali menganggap kompetisi adalah satu-satunya sumber kesenangan buat anak. Sesungguhnya bersenang-senang tidaklah selalu harus mengubah lapangan bermain menjadi arena kompetisi namun orang tua dituntut mampu merubah suasana kompetisi menjadi kolaborasi yang memberi kesempatan pada anak untuk mendapatkan kesenangan yang lebih besar.
Alih-alih anak sekedar ikut lomba,  anak-anak diajak untuk terlibat dalam proyek perlombaan renang, taekwondo, sains, bahkan lomba 17-an. Dalam proyek,  siapapun bekerja sama, saling membantu, agar bisa menampilkan performa terbaik. Anak-anak saling memotivasi kala lelah melanda saat latihan, saling bekerjasama&mengingatkan segala perlengkapan yang harusnya disiapkan dan dibawa di arena, bahkan saling merangkul saat ada yang terpuruk atau kecewa ketika ada yang gagal mencapai performa yang distandartkan. Anak-anak pun selayaknya berkesempatan untuk melihat bagaimana para orang tua saling bahu membahu mensuport segala kebutuhan dan perlengkapan yang  diperlukan anak-anak mereka. Dalam kolaborasi, yang disajikan adalah anak-anak, guru/pelatih, orang tua, atau siapapun elemen yang membantu sebuah proyek bergandengan tangan untuk meraih prestasi. Ukuran berprestasi bukan sekedar medali emas, waktu tercepat,bukan sekedar juara satu tapi karya yang dihasilkan anak dan manfaat dari karya tersebut bagi orang lain sekalipun karya itu hanya  sebuah sentuhan pada garis finis di urutan terakhir. Seringkali orang tua hanya melihat kekalahan pada posisi terakhir namun tidak banyak memahami bagaimana dinamika perjuangan hati & pikiran seorang anak untuk dapat menyelesaikan sebuah pertandingan. Kita orang tua seringkali kehilangan banyak informasi mengenai tindakan yang perlu dilakukan seorang anak untuk mengembangkan diri karena sibuk menginginkan posisi pertama.
Dengan kolaborasi seorang anak belajar untuk tidak berkata "inilah saya" tetapi berkata "inilah kami". Dengan kolaborasi anak belajar menjadi pemenang yang santun dan menjadi kalah dengan elegan dan terhormat. Dengan kolaborasi anak tidak hanya belajar rasa kemenangan dan kekalahan namun menghayati setiap moment sebuah proses.
Dengan kolaborasi saya pun belajar menggubah lagu sheila on seven menjadi:
Pertandingan,
Kau berikan aku bahagia
Kau berikan aku derita
Aku pulang........
Kusyukurkan kemenanganKu
Aku pulang........tanpa dendam
Kusalutkan kemenanganMu
:) :) :) :) :) :)
Muntal di bulan Agustus,12 2016
#Mei Ranta dari berbagai sumber tulisan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar