Kamis, 06 Oktober 2016

Catatan SOT(Sekolah Orang Tua)


Dalam parenting hari ini salah satu hal yang diingatkan bu Iik adalah janganlah menyimpan kesolehan untuk diri kita sendiri.
Saya jadi teringat sebuah peristiwa beberapa tahun yang lalu.
Kala itu Romadhon. Lazim di beberapa daerah ketika menjelang hari raya tukang sayur membagi-bagikan bingkisan kepada pelanggannya. Pagi itu seorang tukang sayur juga sedang membagikan bingkisan kepada beberapa ibu-ibu yang sedang berbelanja padanya. Bukan panci, handuk atau payung, hanya sekedar satu bungkus kolang kaling dan sebungkus sayuran entah apa saya lupa. Beberapa mengucapkan terimakasih namun ada seorang ibu berusaha mengembalikan pemberian penjual itu dengan alasan tidak perlu repot, untuk dijual, khawatir nanti si penjual jadi rugi dan sebagainya (secara sekilas memang penjual sayur itu bukanlah penjual sayur bermodal besar yang jangankan naik mobil untuk berkeliling, naik motor pun tidak. Dia hanya menggunakan sepeda "onthel" roda dua). Tapi penjual sayur itu tetap bertahan untuk berbagi.
Setelah penjual sayur itu pergi, sang ibu yang melawan pemberian itu melanjutkan keluhnya pada seorang ibu tua yang baru datang di kerumunan "pasar kecil" tersebut dengan mengatakan bahwa seharusnya penjual sayur itu tak perlu berbagi bingkisan, kasihan kan labanya tidak seberapa
🎼acara ngerumpi pun dimulai🎶
Namun jawaban si ibu tua itu cukup mencengangkan. "Alhamdulillah kalau si pedagang sayur keliling itu bisa berbagi. Kolang kaling bisa untuk kolak buka puasa nih. Semoga berkah. Semoga rezeqinya ke depan semakin lancar."

Dalam kehidupan, kita seringkali tidak sadar berusaha memiliki sebuah kebaikan untuk diri kita sendiri. Kita ingin diri kitalah yang paling baik, yang sholeh, yang memberi dan orang lain tidak bolah melakukan/memiliki hal yang sama. Kita seolah hendak berebut pahala dan melupakan bahwa Allah Maha kaya. Kita lupa bahwa tak akan pernah habis stok pahala-Nya meski itu dibagi berjuta kali lipat pada seluruh umat manusia di bumi.
Mengapa kita begitu egois hanya kita yang boleh berbagi sementara yang lain tidak? Mengapa kita begitu sombong nenganggap penerima itu hina sementara kita lupa bahwa setiap detik hidup kita adalah pemberian dan belas kasih-Nya?
Seandainya kita mengingat indahnya rasa ketika kita memberi, tentu kita akan dapat ikhlas menerima pemberian dan mengizinkan si pemberi -betapapun miskinnya dia- untuk dapat tersenyum bahagia yang sama dengan kita. Ikhlas menerima adalah belajar tentang doa yang tulus.
Eric Fromm dalam bukunya "The Art of Loving" menjelaskan dengan apik bahwa seseorang hanya akan mampu merasakan cinta/kasih sayang jika dia memberi cinta/kasih sayang. Pun sebaliknya, seseorang mampu memberi cinta pada sesama apabila dia mampu menerima cinta dari sesama.
Menerima dengan ikhlas artinya disaat yang sama kitapun sedang memberi kebahagiaan.
Memberi dengan ikhlas artinya disaat yang sama pun kita menerima begitu banyak rizqi dariNya.

#hikmah#23 Agustus 2016#Mei Ranta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar